MAMA, TETAP BERMAKNA


Namaku diambil dari nama istri pertama Nabi Muhammad. Aku lahir 23 APRIL 1959. Aku anak keempat dari 10 keluarga. Banyak kan. Keluargaku keluarga besar dan belum mengenal program  Keluarga Berencana. Jarak antaranak rata-rata 3 tahun. Ayah Ibuku seorang pedagang minyak. Ayah membuat sendiri minyak goreng, dari mulai kelapa hingga minyak. Barangkali lebih tepatnya produsen minyak. Ayah menjual minyak ke pedagang besar. Jadi pedagang-pedangan besar mengambil minyak yang berdrum2 dr ayah. Industri ini merupakan industri rumahan. Anak-anak dilibatkan dalam proses produksi. Sabut dipisahkan dari batok kelapa (nylumbat). Kemudian batok kelapa dipisahkan dari kelapa (nyungkil). Daging kelapa diparut kemudian diambil santannya dan dimasak (ngindel). Pekerjaan nyungkil dikerjakan oleh perempuan sedangkan nylumbat dan ngindel dilakukan oleh laki. Saudaraku memang kebanyakan laki-laki. Anak pertama laki-laki, kedua perempuan, ketiga laki-laki, keempat aku. Adik2ku semua laki-laki dan yang terakhir perempuan.
Ayahku punya sedikit lahan pertanian, warisan dari kakekku. Hasil panen seringkali tidak cukup untuk keluarga kami yang besar. Berbicara mengenai fisik, ayah ibuku suku Jawa akan tetapi mataku sipit dan kulitku paling putih diantara saudara-saudaraku. Kulitku mirip sekali dengan kakak pertamaku A yang berkulit putih dan bermata sipit. Setelah lulus SD, teman2 sebayaku terutama wanita kebanyakan di suruh menikah. Pada saat itu, anak wanita umumnya tamatan SD. Jika wanita sudah baligh dan sudah bisa membuat sambel maka orang tua mereka akan mencarikan pasangan untuk berkeluarga. Oleh karena itu, aku sangat tidak suka kalau disuruh memasak. Aku takut disuruh membuat sambal. Aku pun mulai tak suka sambal. Jika kondisi kami tak punya lauk, aku lebih memilih memakan dengan garam daripada dengan sambal. Untuk pekerjaan rumah, aku lebih suka mencuci baju, piring atau bebenah.
Dari awal sekolah aku selalu mendapat juara umum sampai aku kelas 6 SD. Akhirnya aku mendapat kesempatan masuk sekolah SMP Negeri di kecamatan. Aku pun mulai terkenal karena prestasiku. Alhamdulillah, setidaknya orang tuaku tidak usah bersusah payah membiayai sekolahku. Untuk hidup saja, keluargaku begitu kesulitan. Kalau ingin makan agak enak, kakakku yang pertama sering mengajakku mencari sesajen di sawah untuk dimakan. Kata masku mubazir, tidak ada yang makan. Andai orang tuaku tahu, pasti kita habis kena marah, akan dibilang ra elok. Aku juga sempat putus asa takut disuruh nikah sama orang tuaku, tapi masku ini selalu memotivasi agar aku belajar rajin. Jika aku belajar rajin aku bisa berprestasi dan berkesempatan melanjutkan sekolah tanpa biaya. Benar kata masku. Aku senang luar biasa mendapatkan kesempatan melanjutkan ke SMP. Aku pun harus belajar keras agar aku tetap bisa sekolah.

Bersama Teman Berkebaya Ria
Sewaktu aku SMP aku mempunyai banyak teman dari anak wedana dan anak pejabat setempat. Mereka seringkali datang ke rumahku untuk belajar. Awalnya keluargaku minder karena teman2ku merupakan anak pejabat dan orang2 penting di kecamatanku. Tapi lama-kelamaan juga terbiasa. Teman-temanku juga baik, mereka tidak memandang aku dan keluargaku dengan sebelah mata, mereka berniat untuk belajar bersama. Bergaul dengan mereka yang dari kaum gedean dan ningrat  membuka cakrawala berpikirku. Bahkan masku selalu bilang, bersikaplah seperti mereka yang menggunakan cara bicara yang halus, sopan, menggunakan karma inggil dan andap asor. Secara tidak langsung aku belajar untuk bersikap layaknya gedean dan ningrat. Aku pun tidak kesulitan bergaul dengan mereka. Bahkan aku seringkali diajak acara2 penggede dan pada suatu kesempatan aku didaulat sebagai pembawa acara. Aku juga ikut cara2 mereka yang belajar klenengan (gending Jawa), pelajaran miru (melipat kain), merawat tubuh, cara duduk, mbatik, makan dll.  Jadilah aku gadis biasa yang sangat Jawa.
With Friends
 Hal itulah yang membuatku berkenalan dengan golongan terpelajar, calon insinyur A. Aku pun mulai jatuh cinta. A tinggal di kota Yogyakarta sedangkan aku tetap di kebumen. Kami berhubungan melalui surat atau ketika dia pulang. Orang tuaku sudah melarang mengingat perbedaan strata sosial diantara kita. Lagi-lagi masku menyemangati dan mengatakan “kamu harus sekolah lagi biar diizinkan berhubungan dengan A dan bisa menikah”. Aku ingat kata-kata itu dan akupun berhasil menjadi juara umum di SMP dan mendapatkan hadiah sepeda. Sepeda bagi keluargaku adalah barang mewah yang tak mungkin terbeli.
Sementara  masku memilih masuk ke SMA karena dia juga punya mimpi ingin menjadi insinyur. Dia menyarankan aku agar masuk SPG (Sekolah Pendidikan Guru). Dengan masuk SPG jika sudah lulus bisa langsung mengajar, bahkan bisa langsung menjadi pegawai Negara jika lulus. Selain itu, aku tidak terlalu lama sekolah dan tidak menjadi perawan tua. Pada saat itu orang sekolah SD sudah merupakan kebanggaan dan teman-teman seusiaku sudah mempunyai anak.  Aku harus memperbaiki nasib. Jika aku smp kemudian menikah, mungkin adik2ku juga akan mengalami nasib yang sama. Tetapi jika aku sekolah lagi, mungkin aku bisa sedikit membantu biaya sekolah keenam adikku. Akhirnya aku masuk SPG gelombang pertama tanpa biaya. Dua masku berhasil masuk SMA Gombong, sekolah terbaik di Gombong. Mbakku mengikuti kursus perawat. Saat itu untuk menjadi perawat dengan kursus berbulan-bulan.
Sepeda hadiah dari SMP dipakai kedua kakakku berboncengan untuk berangkat sekolah sejauh 7 km. Sedangkan aku memilih mondok di Kebumen, karena jarak rumah dan SPG sekitar 15 km dan kendaraan masih sangat jarang. Ibu tempat aku mondok/kos sangatlah baik. Mereka juga golongan ningrat dan priyayi yang baik. Aku pulang sebulan sekali, 15 km sangatlah jauh waktu itu. Aku harus berangkat sehabis subhuh memakai lampu oncor. Lampu oncor adalah lampu yang terbuat dari bambu kemudian diberi kain dan minyak tanah. Batere/ lampu senter juga masih langka. Di rumah kami listrik juga belum ada. Kami sekeluarga menggunakan senthir /lampu minyak dengan merk DIAN.  Maka seringlah kita menyebut lampu dengan dian. Perjalanan ke Kebumen melewati pematang sawah dan kebun2 semak2 belukar. Jalan–jalan tidak sebagus sekarang, rumah pun masih jarang. Jika aku kehausan di jalan dan bekal habis, akus seringkali minum air sawah. Sekolah ini adalah masa yang sulit karena jarak yang jauh ketika pulang. Kadang aku lebih tinggal di pondok ketika libur ketimbang pulang, mengingat jarak/ medan yang sulit. Aku merupakan anak pondokan yang paling dekat dengan ibu B, ibu pondokku. Ibu B saat itu lebih banyak mengajarkan kepadaku  tentang Islam, bagaimana seorang muslim/wanita bersikap, tentang cara mendidik anak, pentingnya ASI dll. Kebetulan ibu pondokku juga seorang guru madrasah. Waktu yang dinantikan pun tiba, aku lulus SPG dengan prestasi yang memukau dan berhasil diterima sebagai Guru dengan status Pegawai Negara (PNS sebutan sekarang).
Berkebaya Seperti Kartini
 Tugas mengajar pun datang dan aku ditempatkan di lokasi dengan medan yang sulit yaitu di Wanareja, meskipun jaraknya lebih dekat, daerah itu merupakan pegunungan. Aku melakukan itu dengan niat ibadah seperti yagn ditanamkan ibu pondokku semasa sekolah SPG. SK (Surat Keputusan) saat itu memang agak menguntungkan. Penugasan disesuaikan dengan lokasi asal pelamar. Selama 5 tahun bekerja di kondisi dengan medan yang sulit setelah itu dinilai kinerjanya. Jika hasilnya bagus maka bisa dipindahkan ke sekolah favorit (kota) sesuai dengan prestasi/kinerja guru.
Saat itu pergaulanku makin luas. Hubunganku dengan mas A juga agak renggang karena masalah status sosial, jarak dan kesempatan. Kita sama2 sibuk dengan sekolah kita masing2 yang menguras tenaga dan waktu kita. Akhirnya pada suatu kesempatan aku berkenalan dengan laki-laki berprofesi tentara. Tentara sama dengan profesi guru, perawat, insinyur, merupakan profesi bergengsi. Orang tua manapun akan melepas anak gadisnya jika menikah dengan seorang tentara.Dulu dia sebut saja C berpangkat kopral sekarang sudah menjadi mayor. Dia merupakan anak dari petani sama dengan aku. Sebenarnya tidak ada halangan kita menikah karena kita sama secara status sosial. Sebagai gadis jawa, bibit, bebet, bobot sangatlah ditekankan. Mas C mengatakan bahwa “kamu akan bahagia jika menikah denganku, aku tentara, aku juga punya sawah yang luas yang bisa kamu rawat”. Jujur aku lebih suka membaca puluhan buku atau mengepel lantai berkali2 atau mengerjakan pekerjaan rumah yang berat daripada mengurus sawah. Ayahku memang punya sawah, tapi kami anak perempuan lebih banyak di rumah, katanya kalau nanti di sawah kulit bisa hitam dll. Makanya tak heran ibuku dan saudara perempuanku berkulit kuning bukan sawo matang. Intinya aku tak suka mengurus sawah. Jika aku menikah dengan mas C, aku juga harus siap ditinggal2 saat dia harus bertugas. Kata ibu, idealnya wong wedon melu lanang, suwargo katut bojo artinya perempuan kodratnya ikut suami, surga perempuan ada di suami. Kalau aku ikut, berarti aku harus meninggalkan pekerjaan guru yang sudah lama aku impikan. Aku juga sudah banyak berkorban untuk ini, mulai dari jalan malam2 memakai oncor, belajar sambil mencuci baju karena memang tidak ada waktu belajar dll. Tapi kalau tidak usiaku sudah masanya menikah. Teman2ku anaknya sudah besar-besar sementara aku belum menikah. Tapi jika aku ikut suami, belum tentu aku bisa membantu biaya pendidikan keenam adik2ku yang masih butuh pendidikan.
Masku yang pertama mendapatkan beasiswa dari Telkom, disekolahkan tetapi setelah lulus dipekerjakan di Telkom. Mbakku sebagai perawat di bandung. Masku yang ketiga mendadak pengen jadi guru seperti aku.hehehe.masku yang pertama dan mbakku belum menikah. Itu hal yang membuatku nyaman belum menikah. Ketika mbakku pulang dari Bandung, aku pun bercerita tentang keadaanku tentang kebimbanganku. Kata mbakku, “Mending ga usah sama tentara, kan selama dia jauh sama kita, kita gak bisa lihat perangainya gimana. Nti  kalau dia nikah lagi, nikah siri gimana?kita ga tahu. Lagian kamu kan ga suka ngurus sawah kan? Ga usah khawatir, kamu cantik dan pintar itu dah cukup membuat laki2 tertarik. Laki2 dari sabang dampai Merauke juga menyukai wanita sepertimu,  percayalah. Dibanding aku, kamu jauh lebih beruntung. Tak usahlah bersedih”. Kalimat itulah yang membuatku terus bersemangat. Kata-katanya memang benar, jika aku mau menanggapi banyak laki-laki yang menyukai aku, tapi aku lebih memilih menjadikannya sahabat. 
My sister's wedding
Alhamdulillah, kami anak yang sudah bekerja dan orang tua bekerja bahu membahu agar keenam adikku bisa lulus SMP. Perjuangan yang panjang dan melelahkan. Masku yang pertama dan mbakku yang kedua menikah. Meskipun mereka menikah, mereka masih bisa membantu biaya sekolah adik2. Masku ketiga menjadi Guru di Kebumen. Dia menyukai gadis dari kalangan priyayi dan ningrat. Gadis ini sungguhlah baik dan halus tindak tanduknya. Dia gadis Jawa yang penurut. Ketika saat keluarga kami hendak melamarnya, keluarga kami ditolak mentah2 plus bonus dihina2. Akhirnya hubungan masku pun kandas.
Pada saat itu, belum ada televisi, listrik pun belum ada. Hiburan satu2nya adalah wayang, ketoprak, klenengan (gending jawa). Dari dulu penabuh gamelan sudah menjadi hobiku. Tiap malam aku selalu latihan klenengan. Tak disangka ada laki-laki yang memperhatikanku. Dia D, seorang pegawai bank, bank satu2nya di daerahku mungkin di Jawa Tengah. Dia bukan asli desaku, dia pendatang dari Kecamatan sebelah. Dia ikut kakaknya yang berumah di desaku. Dia tampan, lebih tampan dari pria sebelumnya. Kulitnya kuning langsat, dia juga lebih halus perangainya, cara bicaranya sopan. Aku pun cerita melalui surat pada masku. Aku bercerita kalau mas D bekerja di bank. Kata masku yang waktu itu bekerja di Telkom berkata “Aku lebih setuju kamu sama ini, sebagai pegawai bank BUMN, sebagai sama2 pegawai BUMN, lebih terjamin hidupnya, gajiannya tanggal 25, kamu gak bakal kekurangan.hehehe”. Aku bercerita pada mbakku di Bandung tentang mas D yang wangi, bajunya rapi dan bersih, jika ke kantor menggunakan sepeda motor dari kantor. Kata mbakku “Ya iya lah kalau jadi pegawai bank mah harus good looking and wangi”. Aku pun meminta izin pada mas ketigaku yang belum menikah dan masih sendiri setelah lamarannya ditolak. Mas ketigaku bilang “Udah nikah sama dia aja, sama2 orang Panjatan, keluarganya juga keluarga guru, paling engga ga susah adaptasi, gak usah nunggu aku. Kalau laki2 dilangkahi itu ga p2 kl perempuan ka nada usianya”. Sementara kedua orang tuaku setuju, setelah dirunut. Ternyata orang tua mas D pernah menjadi kolega orang tuaku.
Married
 Setelah istikharah, akhirnya aku semakin yakin akan menikah dengan mas D. Rasa kagum pun pada mas D semakin kuat, melihat semangatnya bekerja. Sepulang lelah seharian, mas D masih mau bekerja kembali membuat batu bata kelak digunakan untuk membangun rumah. Dengan kerja keras mas D, rumah berdinding bata sudah terbangun (gedhong) dan sudah bisa dihuni. Hanya lantainya masih semen. Buatku itu prestasi luar biasa. Orang biasanya hidup sendiri (misah) setelah punya anak dua/tiga, sebelumnya tinggal bersama mertua/orang tua. Tapi mas D lain, dia sangat mandiri, dia punya rasa malu jika sudah menikah masih menumpang pada orang tua/ mertua. Kemandiriannya juga terlihat sejak kecil, dia memilih tinggal bersama kakaknya daripada menjadi bungsu di rumah. Dia bahkan bersedia membantu biaya pendidikan adik2 ku jika kita menikah. Dia juga tetap mengizinkan aku bekerja dan tidak menuntut macam2.
Tibalah hari acara lamaran. Mas D datang bersama keluarganya melamar aku. Sebagai keluarga yang sangat Jawa, ayahku memanggil tetua desa. Memang ada tradisi kalau hendak menikahkan anak harus dihitung terlebih dahulu, redja (kaya raya), sri (bisa hidup tapi biasa saja) dan pati (mati).Setelah dihitung jatuhlah pada pati (mati). Tetua desa menghitung kembali sampai 3 kali, bapak mas D menyuruh kembali. Tetap saja jatuhnya pati. Setelah keluarga ku datang silaturahmi ke keluarga mas D ternyata posisi rumah kami nggotong mayit artinya kurang baik, hanya ada satu jalan yang menghubungkan rumah kami, jalan yang lurus, terbaik, terdekat tapi melewati kuburan/makan dan itu merupakan pertanda buruk.
Ibuku mulai khawatir, sebagai wanita jawa yang memegang teguh falsafah Jawa. Ibu tidak mau kehilangan anak2nya. Seumur hidup dia hamil dan mempunyai anak 10, dia merawat anak2nya dengan hati2 dan tidak pernah keguguran dan anaknya selalu sehat. Sementara ayahku adalah orang yang optimis. Apapun itu selalu dipandang positif. Ada kata2 penyemangat dari ayah “Nek ana awan mesti ana pangan” artinya kalau ada siang pasti ada makanan. Sebuah optimis bahwa ada banyak jalan untuk mencari nafkah. Meskipun ayah juga orang Jawa, dia sangatlah demokratis seluruh anak2nya dimintai pendapat.
Kakak2ku lebih setuju jika aku menikah dengan mas D. Mengenai usia itu sudah Allah yang menentukan. Siapa saja bisa meninggal kapan saja, tinggal menunggu waktu dan mengusahakan agar bisa ngadep dengan khusnul khotimah. Masku yang pertama lebih setuju lagi setelah tahu bahwa keluarga mas d merupakan keluarga kyai yang agamis. Tidak terlalu merepotkan perhitungan2 orang Jawa.
Setelah berunding, ayah memutuskan untuk menghadap pada tetua desa dan menyampaikan maksud hendak menerima pinangan dari mas D. Tetua adat  menyarankan untuk melaksanakan berbagai ritual, salah satunya menganggap tontonan yang mendatangkan banyak orang, bisa wayang, ketoprak atau sejenisnya sebagai srana ngruwat. Acara itu harus dilaksanakan semalam suntuk dan dilaksanakan di rumah yang hendak ditempati mereka berdua. Tidak boleh di rumah pihak perempuan dan di rumah pihak laki2.
Keluarga mas D segera setuju tanpa banyak pertanyaan. Bukan karena mereka percaya akan ritual seperti itu tetapi sebagai wujud penghormatan terhadap calon besan. Keluarga mas D juga baik, peduli dengan keluarga tetapi tidak mencampuri keluarga kecil kami. Aku dan Mas D diperlakukan secara mandiri. Kami tinggal di rumah yang mas D bangun. Lama2 rumah kami pun rapi, bagian bawah sudah dipasang ubin dan bagian atap dipasang eternit. Kami bergotong royong mebersihkan rumah, menata rumah. Mas D juga begitu ringan tangan membantu pekerjaan rumah seperti mencuci baju dan lain2. Soal perut, barangkali ini kekuranganku, aku tak terlalu pandai memasak. Masakanku biasa saja. Apapun masakanku selalu dimakan mas d. Kalaupun masakannya tidak enak, mas D tidak pernah menghina tetapi berusaha memperbaiki dengan memasak bersama. Mas D juga ikut membantu perekonomian keluargaku.
Dua adikku memutuskan masuk STM, satu diterima di PLN dan satu bekerja sebagai karyawan di PT di Tangerang. Ketiga adikku memutuskan masuk SMA. Mereka E,F,G. aku melihat mereka pandai, lebih pandai dari aku. Aku terus memotivasi mereka untuk kuliah. Kesempatan yang tidak mungkin untuk desa kami. Nyaris tidak ada yang kuliah di desa kami yang hanya 3 RW. Kalaupun ada tentu bukan dari keluarga petani. Saat itu ada kesempatan memasuki perguruan tinggi dengan jalur Sipenmaru. Tiap hari aku selalu menggembleng mereka agar belajar dan belajar. Ketiganya laki-laki berwajah tampan, berkulit putih dan bermata sipit. Perangai mereka halus, karena kondisi perekonomian keluargaku sudah jauh lebih baik daripada ketika aku sekolah zaman itu. E orangnya pendiam, dia merupakan seperti arjuna, halus bicaranya, lembut perangainya dan tampan wajahnya. E adalah orang kalau rajin belajar, kelihatan tak pernah menyerah untuk belajar, mau prihatin, belajar sampai malam. E mendapat beasiswa dari STT Telkom sampai diploma 3 dan bekerja di Telkom sampai sekarang. Berbeda dengan E, F ini orangnya juga lembut miriplah dengan E, tapi F ini tidak suka belajar. Kalau mau ujian malah F ini main. Seringkali aku memarahi dia karena tak belajar. Pernah suatu kali aku mengetes,. Hasilnya memukau, dia berhasil menjawab pertanyaanku. Rupanya dia tidak perlu berulangkali membaca. Sekali membaca dia mudah ingat. Kalau G menyukai hal yagn berbau olahraga. F dan G mengikuti Sipenmaru dan diterima. F diterima di IPB  dan G di Unila. Belakangan G merasa tidak menyukai di Unila dan memutuskan untuk mendaftar TNI AL di Surabaya karena G memang paling pandai berenang. G paling dekat dengan anak pertamaku. Sementara adikku yang bungsu masih kecil. Bahagia rasanya melihat adik2ku sukses.
Alhamdulillah, sebagai seorang guru akupun didukung oleh mas D, suamiku. Aku terpilih sebagai guru teladan dan sebagai reward nya aku dipindah di SD 4 Karanganyar. SD terbaik satu kecamatan. Murid-murid SD ini kebanyakan dari keluarga orang berada atau berpengaruh. Selain itu, etnis Tionghoa juga menyekolahkan anaknya di SD ini. Tak berapa lama setelah kami menikah, aku dikaruniai anak pertama yang kuberi nama G yang artinya wanita cantik pertama yang memberi petunjuk (hidayah) untuk keluarga. Awalnya, ibu member saran untuk melahirkan di dukun beranak karena 10 anak ibu juga melahirkan di dukun dan semuanya sehat. Akan tetapi, aku dan mas D sebagai orang yang “makan bangku sekolah” lebih memilih melahirkan di bidan. Dokter saat itu masihlah jarang.  Anakku G ini cantik, kulitnya kuning seperti mas D, matanya juga bulat seperti mas D. Secara umum dia lebih mirip mas D. Dia pun dekat sekali dengan ayahnya. Mungkin kalau anak perempuan pertama cenderung dekat dengan ayahnya. Dengan kehadiran G, makin banyak kebutuhan yang harus terpenuhi. Belum lagi 3 adikku in the kos dan membutuhkan banyak uang. Mas D rupanya ikut memikirkan mengenai persoalan ini. Dia laki2 yang sangat peduli. Akhirnya dia putuskan untuk mengolah sawah sendiri dengan tangannya sendiri. Jika sawah diolah sendiri hasilnya lebih melimpah. Awalnya memang sulit karena kita memang belum terbiasa. Egoismeku tentang malas mengolah sawah dll runtuh dengan keinginan agar adik2 bisa jadi insinyur dan hidup sukses. Dengan mengolah sawah sendiri lebih banyak uang yang bisa dihasilkan dan lebih banyak mengirim ke adik2 di perantauan.
Setelah 2 tahun, aku pun hamil kembali. Kali ini, aku dan suamiku memutuskan untuk melahirkan di PKU (Penolong Kemaslahatan Umat) Gombong, memanfaatkan jasa dokter. Masih jarang dokter pada saat itu. Di PKU saja masih kecil masih bagian depan saja dan masih berantakan baru dibangun. Mengapa dokter? Buat kami untuk anak kami senantiasa memberikan yang terbaik. Logikanya dengan anak satu saja kami kerepotan malah ditambah lagi dengan anak kedua. Tapi begitulah seringkali matematika manusia tidak imbang denga matematika Allah.
Ungkapan ayah ibu bahwa anak membawa rezeki memang benar. Anak keduaku perempuan yang pandai. Ketika aku hamil, aku aktif mengajar, memberikan les/tambahan pelajaran di luar jam sekolah, mengirim makanan ke sawah. Tidak ada keluhan ketika aku hamil anak kedua, makan enak, kerja enak dan tidak rewel. Hanya satu ngidam aneh pun waktu hamil tua. Malam2 jam 2an aku ingin sekali minum kelapa muda ijo. Suamiku menjanjikan esok pagi karena hari masih gelap. Aku menangis dan ingin sekali minum kelapa hijau. Akhirnya mas D yang tidak pandai memanjat mencari sebilah bambu (geyet) untuk meraih kelapa hijau. Alhamdulillah mas D menemukan kelapa yang pendek dan bisa digeyet. Setelah dapat, suamiku membuka dan memberikan padaku. Aku pun minum sedikit dan segera tidur. Suamiku hanya tersenyum dan mengatakan, “Ini anak jangan2 keras kepala dan kemauannya keras seperti ibunya”.hehheh.
Benar saja, anak kedua lahir ketika Nuzulul Quran 17 Ramadhan. Suamiku sudah melarang untuk tidak berpuasa karena aku dalam kondisi hamil tua. Tapi aku melarang dan memaksa untuk berpuasa karena setelah dicoba bayinya tetap sehat dan tidak terganggu. Setelah agak lama dan lebih sakit daripada yagn pertama Alhamdulillah anak kedua lahir dengan selamat. Dia kuberi H. Sebuah nama yang artinya pandai dan ada di bumi. Tapi kata suamiku itu terlalu ke barat2an tidak ada unsure jawa2nya. Maka di tengah namanya kuberi nama Jawa. H wajahnya mirip sekali denganku sewaktu lahir, kulitnya merah sekali dan sipit. Persis seperti bayi2 Tionghoa. Mirip muridku. Wah jangan2 secara tidak langsung ketularan.Hehehe. Setelah tumbuh, kulit merahnya menjadi putih, sementara mata berubah2. Kadang sipit kadangkala terlihat bulat seperti ayahnya.
Kehadiran H membawa rezeki buat keluargaku. Suamiku naik jabatan, penghasilanku pun naik karena banyak kegiatan dari lomba dokter kecil, lomba bidang studi, gerak jalan, dan lomba lainnya.  Sawah kami pun panen melimpah, lambat laun seiring waktu, lama2 kami mulai mahir mengurusi sawah. Sampai akhirnya aku merasa sangat sibuk, ditambah lagi aku juga menerima jahitan. Setelah berunding, kami memutuskan untuk mencari pembantu. Nama pembantu kami bibi Sikem. Meskipun sudah berumur, bibi ini belum menikah. Dia juga telaten menyuapi anak kedua kami. Semakin senang melihat H yang gemuk, lucu dan sehat. Meski ada juga perangai bibi yang aneh. Ketika pulang kerja, dahulu selalu aku yang membuatkan minum untuk suamiku. Tetapi setelah ada bibi, bibi marah/tidak suka kalau aku yang membuatkan minum untuk mas D.aneh. Aku mengeluhkan ini pada mas D. Tapi dia berpendapat agar tidak memperpanjang masalah ini. Kenyataannya suamiku tetap sayang padaku dan keluarga. Lagipula sulit mencari pembantu yang cocok dengan anak2. Yang terpenting anak2 tidak keteteran. Suamiku ingin H diperlakukan seperti G yang diberi asi secara full. Dulu waktu G kecil sampai dibela2in tiap istirahat G dibawa ke sekolah demi mendapatkan ASI atau aku pulang hanya untuk memberikan ASI. Apalagi saat itu aku sudah mampu membeli motor. Pada saat itu jarang sekali ada wanita yang bisea mengendarai motor, paling banter sepeda.
Foto Kedua Putriku

Ketika H berumur 1 tahun, itu puncaknya aku banyak kegiatan. Daya tahanku melemah. Aku terkena penyakit tifus yang parah. Rumah sakit di DKT Gombong tak mampu merujuk ke rumah sakit sarjito di Yogyakarta.  Aku yang begitu lemah dibawa ke rumah sakit di Sarjito. Nyawaku tak tertolong, aku meninggal tanggal 1 Juli 1987 di usia 28 tahun. Aku meninggalkan suami berusia 30 tahun dan dua anak perempuan berusia 4 tahun dan 1 tahun.

Inspirated from my mother (23 APRIL 1959-1 JULI 1987)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IELTS

Tes Bahasa Hingga Akademik

Review Kantong Asi Untuk Si Ade Zio