Pagi hari, di sudut hatiku


Pagi hari, seorang sahabat nan jauh disana di lapangan Banteng, mengucapkan salam dan tiba2 dia bercerita bahwa ia akan tampil dalam sebuah pertunjukkan teater. Dia menanyakan apa sih yang harus dipersiapkan ketika akan melakukan pementasan? Hihi…seperti pertanyaan ketika pertama mempelajari materi drama zaman kita kuliah. Atau pertanyaan beberapa mahasiswa/taruna yang akan diajar tentang materi drama. Andai boleh jujur, aku juga tidak pede menjawab, karena sebenarnya aku lebih pede menyebut diriku linguis (ahli bahasa) daripada disebut aktris. Mengingat jam terbang mementaskan sesuatu tidaklah terlalu banyak. Berbekal kemampuan selama mengikuti kuliah drama, aktif di beberapa pementasan,  dan kecemplung menjadi guru bahasa Indonesia merangkap guru seni dan budaya, membuat mau tak mau harus belajar dan pede untuk membagi ilmu. Hanya Allah lah yang Maha Sempurna, boleh kita sedikit belajar ilmuNya.
Hal lain yang membuat pede adalah salah satu nilai mata kuliah drama dan seni pertunjukan atau mata kuliah yang berbau pementasan mendapat nilai A. hehehhe. Ini juga bisa dijadikan sedikit legalitas akan kompetensi diri. Meskipun aku tidak setuju bahwa kemampuan seseorang tidak selalu hanya dinilai dari sebuah kertas.

Transkip Nilai

Dari segala jenis teater, aku menyukai teater yang realis. Kebetulan aku tak pandai berfilsafat, buatku hebat seorang aktor atau aktris yang bisa memainkan cerita surealis dengan memukai. Bisa diduga dia pandai dalam semiotik dan filsafat. Terlebih lagi jika cerita yang ditampilkan mengenai religi. Menurutku apapun itu bisa jadi “kendaraan “ untuk berdakwah, menyeru, mengajak pada arah kebaikan. Jika ada yang pendapat seni adalah kebebasan. Ya betul tapi tetap ada batasan yang tidak melanggar keyakinan.
Dari sekian banyak teater, aku menyukai teater KYAI KANDJENG yang digawangi oleh Emha Ainun Nadjib. Mereka kebanyakan mementaskan pementasan berbau religi, meskipun ada sedikit kekecewaan. Beberapa aktris tidak menggunakan jilbab. Buatku jilbab bukanlah halangan untuk berkreasi, berseni atau berpentas.

Mari kita mencoba menjawab satu2 pertanyaan:
Apa yang harus dilakukan agar menjadi aktor yang baik?
Jika berhasil meyakinkan penonton bahwa apa yang tengah dilakukan aktor benar, itu sudah cukup. Ada beberapa harga dari pemain, disamping yang meyakinkan dan itu benar, yakni pura – pura, meniru atau/dan tidak meyakinkan. Yang tidak meyakinkan, tentu kurang baik. Pura – pura juga tidak baik. Dalam hal meniru, jika meyakinkan tidak apa – apa. Intinya sekali lagi permainan harus mampu meyakinkan penonton.
Alat aktor adalah tubuh / raga dan rohnya. Itulah yang harus terus menerus di asah dan dilatih agar siap dalam menghadapi, menggali dan memainkan peranan. Untuk itu ada beberapa langkah dan tahapan yang harus diperhatikan.

1. Melatih Kelenturan Otot – otot Anggota Tubuh.
a. Leher-mata (ekspresi) mulut.
b. Tangan ( jari – jari, pergelangan, lengan dan bahu).
c. Kaki (pergelangan lutut - tungkai – langkah).

2. Melatih Pernafasan.
a. Bernafas dengan benar dan terkontrol adalah pemupukan energi kreatif. Ini membantu agar ketika tampil tidak terdengar nafas (ngos..ngosan)

3. Membaca (kejelasan kata,suku kata dan huruf mati).
4. Mengeja huruf hidup (A-I-U-E-O)
5. Mengasah daya penyampaian (artikulasi).
6. Mengasah kemampuan menganalisis dan mnyimpulkan.

Langkah2 berhubungan dengan jiwa/roh yaitu dengan berlatih:
1. Konsentrasi dan fokus.
2. Observasi dan penyerapan (lingkungan-suasana-waktu).
3. Imajinasi (lingkungan-benda-suasana-waktu-peristiwa-kenangan)
4. Penghayatan (pemahaman, berkisah dengan cara berbeda).
5. Pembangunan karakter peranan (analisis-peradeganan-jalinan-latar belakang motivasi)
Hal lain yang penting adalah rendah hati, disiplin, terbuka, punya tanggung jawab, menghargai orang lain dan jujur, tidak bosan belajar dan tahan trhadap kritik.

Apakah untuk jadi seorang aktor diperlukan bakat?
Menurutku daripada sibuk menilai aku berbakat jadi aktor ga yah? Mending langsung nyemplung. Bakat, bagaimanapun harus diasah. Jika tidak, ibarat pisau, bakat akan berkarat dan tidak siap untuk memerankan peranan.

Seandainya tidak berbakat, bisakah seseorang bermain teater?

Meskipun tidak punya bakat, seseorang tetap bisa bermain teater asal mau terus menerus berlatih. Oleh karena itu, actor bisa bermain beradaskan bakat atau teknik bermain. Kalau hanya mengetahui teknik/teori permainan, mungkin tempatnya adalah guru acting. Tapi kalau memang punya bakat besar dan memilih acting sebagai pilihan utana dan hidupnya, sampai rtua pun dia tetap bertahan. Kedua bekal itu bisa dimanfaatkanuntuk jadi modal acting. Tapi bakat besar pun, kalau tudak dilatih akan percuma.
Ada seorang actor yang aktingnya bagus, tapi itu terjadi sebelum dia mengetahui teknik/teori acting. Tapi begitu dia diberitahu teknik/teori bermain teater, mainnya menjadi jelek. Mengapa begitu? Karena dia mengawinkan teknik dengan bakat yang sudah dia miliki sebelumnya. Bakat adalah anugerah, sedang teknik hanya alat. Jika bakat sudah menemukan jawabannya, maka teknik tak diperlukan lagi. Tujuan dari seni peran/acting adalah “meyakinkan” dan diwujudkan dengan penuh “keindahan”,sesederhana itu.

Apakah yang dimaksud dengan improvisasi?

Improvisasi adalah ‘jalan keluar jika keadaan memaksa’. Misal, lawan main lupa dialog sehingga adegan harus diselamatkan. Disini terlihat kemampuan pemahaman dari seseorang actor. Jika dia sudah paham lakon, peranan, peristiwa dan adegannya maka dia akan menjadi penyelamat. Dia akan menggiringi lawan main dengan dialog yang mungkin tak ada didalam naskah. Upaya itu bisa membuat lawan main yang lupa dialog segera ingat kembali dialog berikutnya. Aktor sehebat apapun, bisa mendadak blank atau kosong dan tak tahu apa yang harus didialogkan.Penyebabnya macam – macam.

Apakah seorang actor harus bisa menari dan bernyanyi?

Dimasa lampau, seorang actor wajib belajar menyanyi, menari/berdansa, bermain anggar dan naik kuda (untuk actor film). Didalam naskah klasik, sering terdengar adegan – adegan dimana actor harus menyanyi, berdansa atau bermain anggar. Jika ada adegan perkelahian diatas panggung, maka actor harus belajar teknik – teknik berkelahi. Naskah – naskah masa kini jarang yang mematokkan adegan tari-nyanyi atau main anggar. Namun memang sebaiknya actor belajar olah gerak (untuk kelenturan tubuhnya) dan menyanyi (olah suara) yang pasti akan sangat bermanfaat.
Ketika aku memainkan pementasan dengan judul “AKU, DIA, KATA DAN WAKTU BERSETUBUH DIMANA-MANA” karangan bersama. Aku dituntut untuk bisa melakukan gerakan patah2 secara serempak bersama 3 tiga teman tanpa melihat. Benar2 hanya berdasarkan kira2 atau aba2 dalam hati. Gerakan yang sulit. Ada juga gerakan yang sulit ketika temanku, abi harus mengangkat bangku kecil sejauh beberapa meter dengan gigi. Teknik yang membutuhkan pernafasan, kekuatan gigi, kelenturan badan. Gerakan lain ketika aku harus menyeret bangku tanpa berbunyi, tanpa nafas ngos2an terdengar, setelah itu beradegan menangis dan harus sampai menitikkan air mata. Lucu ketika harus mengingat saat latihan. Adegan itu harus diulang-ulang karena aku ssering melakukan adegan dengan menggeser (bukan menyeret) bangku dengan berbunyi ditambah lagi posisi membungkuk yagn membuat pegel serta nafas yang harus lembut (tanpa terdengar ngos2an). Maka PRku adalah tiap hari belajar pernafasan. Selama berlatih teater, aku turun beberapa kilo dan badan pegel2 akibat latihan fisik. Begitu menyiksa dan nikmatlah.
Judul-judul setelah itu, seperti LENA TAK KAN PULANG karya Muram Batu, tidak begitu menemukan banyak kendala. Peribahasa Lancar Kaji Karena Diulang bermain di sini. Pengalaman pementasan sebelum2nya menjadi guru yang ampuh dan andal.

Aku sebagai kata

Waktu, Ego diri, dan Kata Sering Berbenturan
Berfoto Selepas Tampil Bersama Dosen Drama

Bagaimana seorang actor harus melatih suara?

Seorang actor harus berlatih intensif untuk dapat bersuara keras dan jelas. Keras bukan berarti ngotot atau berteriak sampai otot kejang tapi bulat (seperti badan saya)
Mengapa seorang actor harus melatih suara?
Karena suaranya harus dapat menguasai ruang dan terdengar sampai penonton yang duduk paling belakang.

Apa yang diperlukan agar dapat berperan dengan baik?

Seorang actor harus melakukan pengamatan dan penelitian. Seorang actor adalah seorang peneliti. Aktor harus mengamati dan meneliti berbagai aspek yang ada dilingkungan sekitarnya. Misalnya sebagai berikut :
a. Ketika seorang actor akan memainkan peran seorang bapak yang galak, maka dia harus mengamati bapak – bapak yang galak sebagai bandingannya.
b. Ketika seorang actor diminta berperan menjadi anak jalanan, maka dia harus mengamati tingkah laku, cara berpakaian dcan sikap anak jalanan.
Soal ini aku punya cerita. Aku punya teman di UINSUKA yang gabung di teater ESKA (uin kali jaga) memainkan dengan judul SARKEM. Dia benar2 observasi ke pasar kembang, lokalisasi, menjiwai.

Apa yang paling penting ketika seseorang berada di atas panggung?

Mengingat apa tujuan dari tokoh yang diperankannya sehingga dia tau persis apa yang akan dilakukannya. Tujuan itu harus disampaikan pada penonton. Misalnya ada seorang laki – laki dan perempuan kehilangan anak.Tujuannya ketika berada dipanggung adalah mencari anaknya. Dengan demikian, dia tahu persis apa yang akan dilakukannya di atas panggung.

Dalam menjalankan perannya, bagaimanakah seseorang harus berakting?

Dalam berakting, seorang actor tidak boleh berpura – pura. Dia harus menciptakan kebenaran peran. Ketika bermain sebagai orang gila, dia harus benar – benar menjadi orang gila. Seorang actor harus sesungguhnya menjadi peran itu sehingga penonton yakin bahwa dia memang tokoh yang sedang diperankannya.

Apa yang membuat permainan actor / aktris dinilai bagus?

Seorang actor/aktris dinilai bagus permainannya bukan karena tampang, peranan atau ceritanya. Bukan pula karena dia mampu menangis terus dari awal sampai akhir sandiwara. Seorang actor/aktris dikatakan bagus jika dapat bermain dalam peranan apa saja.

Kenapa seorang actor harus berkonsentrasi menghafal dan menjadikan hafalan bagian dari dirinya?

Kalau tidak menjadi bagian dari dirinya,aktor akan terlihat kaku dan terkesan menghafal saat tampil dipanggung. Terkesan menghafal adalah yang paling tidak boleh dilakukan oleh seorang actor dipanggung.

Bagaimana jika konsentrasi seorang actor kurang baik?

Dia dapat mengganggu jalannya latihan atau pertunjukan. Jika dia salah kata, orang bisa tidak mengerti. Kata yang terbalik – balik berakibat tidak akan dimengerti oleh lawan main atau penonton.

Seorang actor harus berkonsentrasi pada apa saja?

a. Hafalan dialog naskah dan nyanyian jika ada nyanyian.
b. Penonton, jika penonton bereaksi atau merespons permainan.
c. Gerakan. Aktor harus ingat kapan bergerak dan bergerak kemana, dan berbuat apa ditempat itu.

Kenapa pemain harus berkonsentrasi sebelum pertunjukan dimulai?

Konsentrasi sangat diperlukan untuk memusatkan pikiran hanya kepada apa yang akan dilakukan diatas panggung. Tanpa konsentrasi, mungkin dipanggung bisa lupa dialog atau lupa giliran masuk. Dengan konsentrasi, begitu panggung dibuka, pemain sudahsiap untuk apa saja. Berdialog, menyanyi, menari, bermain pedang. Atau apa saja sesuai karakter tokohnya.

Sebelum pertunjukan dimulai,jam berapa pemain harus berada di tempat pertunjukan?

Pentas malam hari biasanya dimulai pada pukul 20.00. Pemain dan seluruh pendukung pertunjukan harus dating pada pukul 14.00 untuk pengenalan lingkungan. Pukul 16.00 atau 17.00 pemain melakukan pemanasan dan mulai berdandan. Pada pukul 18.00 para pemain makan,disambung briefing oleh sutradara. Kemudian dilanjutkan dengan berdo’a bersama. Setengah jam sebelum pukul 20.00, semua harus berkonsentrasi untuk menyatukan seluruh energi luar dalam demi suksesnya pertunjukan. Akhirnya pentas dimulai hingga pukul 22.00 atau 23.00. Sesudah pentas, ada sutradara yang melakukan evaluasi malam itu juga, tapi ada yang melakukan evaluasi esok malamnya.

Apa yang harus dilakukan ketika seseortang mendapat / menerima peranan?

a. Membaca naskah dengan seksama.
b. Mengetahui identitas tokoh yang akan diperankannya (usia, jenis kelamin, marital status, pendidikan maupun asal etnis-geografis).
c. Mengetahui latar belakang social, ekonomi dan budaya (cara bicara, logat),dan segala atribut yang menyertainya, seperti cara berpakaian, sikap dan pandangan hidupnya, dan nilai – nilai moral/social budaya. Misal, ada tokoh yang tidak mungkin memakai warna merah karean warna merah dalam kondisi social budayanya dianggap sakral. Atau mungkin karena didekat rumahnya banyak banteng, dia nggak mungkin pakai baju warna merah.
d. Mengetahui alas an dan tujuan keberadaan tokoh yang diperankan.

Apa perbedaan acting didepan panggung dan didpan kamera?
Medianya berbeda tapi aktingnya sama. Namun karena anggung punya jarak dengan penonton, volume suara harus lebih keras. Bicara tidak boleh terburu – buru. Kamera punya pengatur jarak dan mikrofon yang merekam suara. Jadi, bicara tidak perlu berteriak. Ekspresi tidak boleh terlalu besar karena akan terkesan over acting.

Bagaimana jika actor menangis?
a. Konsentrasi
b. Mengingat pengalaman sedih yang pernah membuat kita menangis, missal dimarahi orang tua. Pengalaman itu diingat lagi sampai hati tersentuh sehingga membuat kita sedih sampai keluar air mata (memory of emotion).

Bagaimana cara menghilangkan grogi?

a. Konsentrasi.
b. Ingat kepada tujuannya diatas panggung. Kalau tidak tahu untuk apa tujuannya berada diatas panggung, pasti akan grogi.
Semoga tulisan ini bermanfaat ya sob…

Jakarta, 27 April 2012

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IELTS

Tes Bahasa Hingga Akademik

Review Kantong Asi Untuk Si Ade Zio